puisi ini saya persembahkan untuk Indonesia yang kini genap berusia 71 tahun. Dirgahayu Negeriku. INDONESIA KERJA NYATA! MERDEKA!
walau saya takkan dapat menyadari apa kemampuan saya dalam menulis puisi
Disebuah bukit kecil dibawah atap semesta
Tinggalah seekor semut di tanah kering meronta
Sabda dari mulut kecilnya
Dapat terwujud dengan mudahnya disana
Jika perut mungilnya berdentum
Sebuah jambu akan jatuh dari pohonnya
Bila batang tenggorok miliknya terlilit
Setetes tirta dapat terpatri tepat dibibirnya
Saat nyawanya letih penat bekerja
Setumpuk permadani telah siap dibawah kepalanya
Tapi apa nyatanya
Tiada senyum terlukis di pipinya
Tiada apa kecuali hening ditelinganya
Tiada airmata yang masih tersimpan dibalik matanya
Apabila bulan tepat berada di ranting bukit
Dia duduk di bawahnya tanpa sesosok kawan menemani
Di padang rumput tempatnya berlindung
Tiada insan selain dia dan sebatang rumput
Betapa kasihan sang semut yang malang
Tiada berkawan tiada berrekan
Walau seribu seratus sepuluh satu makanan
Telah tersedia bagai surga dunia
Namun percuma
Jika kini dia telah mati
Karena makan tak sampai keperut
Tidur beralas batu kerikil
Air bagai racun yang mengalir deras menyiksa
Mati dalam keheningan malam yang sunyi
Ingatlah
Harta bukanlah jaminan kebahagiaan
Kebahagiaan berasal dari dalam diri
Bukan atas emas, perunggu atau berlian
Yang ada di dunia dan tak selamanya
Rabu, 17 Agustus 2016
Jumat, 10 Juni 2016
IBUNDA Seorang-Muh Salman Alfarisi
Ketika Matahari telah bangkit dari peraduan
Saat keheningan malam terpecah pagi yang sunyi
Saat mata melihat sebuah suara terulang
Nampaklah rembulan rupawan bersurai hitam
Yang mengusik mimpi lelapku
Tubuh ini seakan terkendali oleh titahnya
Untuk membasuh kaki dengan tirta yang suci
Dan bersujud pada-Nya Sang Khaliq Penciptaku
Hari ini adalah hari nan berat baginya
Namun dia rela beri sedikit menitnya
Demi mendampingiku untuk bersiap
Menggapai masa depan yang mengukir senyumnya
Disaat semua telah berlalu
Dia bergegas dan bersiap untuk kerja yang menanti
Dengan sisa tenaga rentanya
Mengayuh sepotong sepeda tua
Untuk mencari keping nasi masa depanku
Tiada lelah maupun penat dapat menggangu
Walau peluhnya telah menetes dibawah dagu
Terkadang tak ada maksudnya yang kupahami
Karena telah terlena nafsu dunia
Namun kini ku telah mengerti
Memahami pedih juang di masa tuanya
Jika ada sebuah media dapat bicara
Ingin sekali diri ini berjumpa dia
Untuk ungkapkan bait kesedihanku
Bunda ku harap dikau mengerti
Tiada insan yang lebih ku sayang
Selain dirimu seorang
Yang telah berjuang laksana Jendral Ahmad Yani
Berkorban kepedihan demi kebahagiaan
Kau relakan malammu
Kau relakan senjamu
Tak akan ada seorang yang lebih bermakna
Yang mengisi ruang hampa hati ini
LOVE YOU MOM
Saat keheningan malam terpecah pagi yang sunyi
Saat mata melihat sebuah suara terulang
Nampaklah rembulan rupawan bersurai hitam
Yang mengusik mimpi lelapku
Tubuh ini seakan terkendali oleh titahnya
Untuk membasuh kaki dengan tirta yang suci
Dan bersujud pada-Nya Sang Khaliq Penciptaku
Hari ini adalah hari nan berat baginya
Namun dia rela beri sedikit menitnya
Demi mendampingiku untuk bersiap
Menggapai masa depan yang mengukir senyumnya
Disaat semua telah berlalu
Dia bergegas dan bersiap untuk kerja yang menanti
Dengan sisa tenaga rentanya
Mengayuh sepotong sepeda tua
Untuk mencari keping nasi masa depanku
Tiada lelah maupun penat dapat menggangu
Walau peluhnya telah menetes dibawah dagu
Terkadang tak ada maksudnya yang kupahami
Karena telah terlena nafsu dunia
Namun kini ku telah mengerti
Memahami pedih juang di masa tuanya
Jika ada sebuah media dapat bicara
Ingin sekali diri ini berjumpa dia
Untuk ungkapkan bait kesedihanku
Bunda ku harap dikau mengerti
Tiada insan yang lebih ku sayang
Selain dirimu seorang
Yang telah berjuang laksana Jendral Ahmad Yani
Berkorban kepedihan demi kebahagiaan
Kau relakan malammu
Kau relakan senjamu
Tak akan ada seorang yang lebih bermakna
Yang mengisi ruang hampa hati ini
LOVE YOU MOM
Rabu, 25 Mei 2016
Tanah Air Mata
Buah Karya: Sutardji Calzoum Bachri
Tanah
airmata tanah tumpah darahku
Mata
air air mata kami
Airmata
tanah air kami
Disinilah
kami berdiri
Menyanyikan
air mata kami
Di
balik gembur subur tanahmu
Kami
simpan perih kami
Di
balik etalase gedung-gedungmu
Kami
coba sembunyikan derita kami
Kami
coba simpan nestapa kami
Kami
coba kuburkan duka lara
Tapi
perih tak bisa sembunyi
Ia
merebak kemana-mana
Bumi
memang tak sebatas pandang
Dan
udara luas menunggu
Namun
kalian takkan bisa menyingkir
Kemanapun
melangkah
Kalian
pijak airmata kami
Kemanapun
terbang
Kalian
kan hinggap di airmata kami
Kemanapun
berlayar
Kalian
arungi airmata kami
Kalian
sudah terkepung
Takkan
bisa mengelak
Takkan
bisa kemana pergi
Menyerahlah!
Pada kedalaman airmata kami
GUGUR
Buah Karya :
WS Rendra
Ia merangkak
Di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
Pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya
Ia merangkak
Di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya
Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
Menatap musuh pergi dari kotanya
Sesudah pertempuran yang gemilang itu
Lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Belum lagi selusin tindak
mautpun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
Ia berkata :
‘’ Yang berasal dari tanah
Kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang
sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan
datang.”
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa
Orang tua itu kembali berkata :
”Lihatlah, hari telah fajar!
Wahai bumi yang indah,
Kita akan berpelukan buat
selama-lamanya!
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menancapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka iapun berkata:
Alangkah gemburnya tanah di sini!”
Hari pun lengkap malam
ketika menutup matanya
Jumat, 22 April 2016
Terima Kasih Buat Abang Kembar-Muh Salman Alfarisi
Kalian bagai ranjang tahan akan grafitasi
Kalian laksana kail kait diri ini
Kalian ibarat sucinya tali dari curah kegelapan
Kalian seperti singa hardik musuh lusuhnya
Kompak, Bersama, Saling menyayangi
Peduli, Menjaga, dan selalu Ceria
Yang kalian buatku meneladaninya
Kita tak pernah hendak berjumpa
Sebatas mata kaca elektronika pemirsa
Namun kalian telah iba hati padaku
Beriaku setetes motivasi
Membuat aku terus melangkah maju
Tinggalkan yang lalu gapai yang baru
Terima kasih atas asa yang kalian berikan
Kalian sang Gemini tanah Medan Batubara
Hanya empat lembar ini
Yang dapat kalian terima
Semoga Raabku dapat segera izinkan
Tertanggal senyuman dalam rembulan kalian
Sabtu, 06 Februari 2016
Kisah Hidupku didalam Ismiyaku-Muh Salman Alfarisi
Laksana
tunas padi
Yang
tumbuh berkuncup
Selalu
kunanti
Angin
yang akan membantuku disini
Membantu
menerbangkan serbuk sariku
Dan
hinggap diatas bakal biji itu
Apakah
seharusnya dia
Menyemprotku
berkali kali
Memaksaku
segera meunduk
Bagaikan
padi yang telah berisi
Apakah
dia tega melakukannya
Walau
panas mentari
Menyengat
hati diri ini
Jika
kupandang
Tunas
padi darri ladang tetangga
Yang
tumbuh subur
Dan
tanpa dipaksa paksa
Dan
kalau ku tengok
Kanan
dan kiri sisiku
Tak
dapat kurangi kepedihanku
Dulu
...
Ku
miliki rekan laksana pahlawan
Naas
...
Setetes
tinta tlah merusak air dari belangga
Hanya
sebuah teopong yang ku miliki
Teropong
usang pelipur hati
Malang
...
Dia
tlah rusak namun tak hilang
Meninggalkan
hati ku yang hancur ini
Dan
kini ...
Hanya
Keyboard dan Mouse
Yang
beganda dan berganda
Walau
bukan hak miliku
Namun
hanya itu
Penghibur
hati ...
Laksana
puzzle yang tercecer ini
Dan
hanya lantunan Istighfar dari-Nya
Yang
mampu menambat hati piluku ini
Seandainya
ku bisa ...
Gapai
rasi Orion di langit barat
Dapatkan
kejayaan di bumi semesta
Dan
lepaskan ...
Semua
hama pengganggu ketenangan
Langganan:
Postingan (Atom)


