Jumat, 10 Juni 2016

IBUNDA Seorang-Muh Salman Alfarisi

Ketika Matahari telah bangkit dari peraduan
Saat keheningan malam terpecah pagi yang sunyi
Saat mata melihat sebuah suara terulang
Nampaklah rembulan rupawan bersurai hitam
Yang mengusik mimpi lelapku

Tubuh ini seakan terkendali oleh titahnya
Untuk membasuh kaki dengan tirta yang suci
Dan bersujud pada-Nya Sang Khaliq Penciptaku

Hari ini adalah hari nan berat baginya
Namun dia rela beri sedikit menitnya
Demi mendampingiku untuk bersiap
Menggapai masa depan yang mengukir senyumnya

Disaat semua telah berlalu
Dia bergegas dan bersiap untuk kerja yang menanti
Dengan sisa tenaga rentanya
Mengayuh sepotong sepeda tua
Untuk mencari keping nasi masa depanku
Tiada lelah maupun penat dapat menggangu
Walau peluhnya telah menetes dibawah dagu

Terkadang tak ada maksudnya yang kupahami
Karena telah terlena nafsu dunia
Namun kini ku telah mengerti
Memahami pedih juang di masa tuanya

Jika ada sebuah media dapat bicara
Ingin sekali diri ini berjumpa dia
Untuk ungkapkan bait kesedihanku
Bunda ku harap dikau mengerti
Tiada insan yang lebih ku sayang
Selain dirimu seorang
Yang telah berjuang laksana Jendral Ahmad Yani
Berkorban kepedihan demi kebahagiaan

Kau relakan malammu
Kau relakan senjamu
Tak akan ada seorang yang lebih bermakna
Yang mengisi ruang hampa hati ini




LOVE YOU MOM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar