Rabu, 17 Agustus 2016

Kisah Seekor Semut-Muh Salman Alfarisi

puisi ini saya persembahkan untuk Indonesia yang kini genap berusia 71 tahun. Dirgahayu Negeriku. INDONESIA KERJA NYATA! MERDEKA!

 walau saya takkan dapat menyadari apa kemampuan saya dalam menulis puisi






Disebuah bukit kecil dibawah atap semesta
Tinggalah seekor semut di tanah kering meronta
Sabda dari mulut kecilnya
Dapat terwujud dengan mudahnya disana
Jika perut mungilnya berdentum
Sebuah jambu akan jatuh dari pohonnya
Bila batang tenggorok miliknya terlilit
Setetes tirta dapat terpatri tepat dibibirnya
Saat nyawanya letih penat bekerja
Setumpuk permadani telah siap dibawah kepalanya

Tapi apa nyatanya
Tiada senyum terlukis di pipinya
Tiada apa kecuali hening ditelinganya
Tiada airmata yang masih tersimpan dibalik matanya

Apabila bulan tepat berada di ranting bukit
Dia duduk di bawahnya tanpa sesosok kawan menemani
Di padang rumput tempatnya berlindung
Tiada insan selain dia dan sebatang rumput
Betapa kasihan sang semut yang malang
Tiada berkawan tiada berrekan
Walau seribu seratus sepuluh satu makanan
Telah tersedia bagai surga dunia

Namun percuma
Jika kini dia telah mati
Karena makan tak sampai keperut
Tidur beralas batu kerikil
Air bagai racun yang mengalir deras menyiksa
Mati dalam keheningan malam yang sunyi

Ingatlah
Harta bukanlah jaminan kebahagiaan
Kebahagiaan berasal dari dalam diri
Bukan atas emas, perunggu atau berlian
Yang ada di dunia dan tak selamanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar